REFLEKSI MAULID NABI MUHAMMAD SAW

 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sering disebut Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: ãæáÏ ÇáäÈíý, mawlid an-nabî), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

‘’ Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun: dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”,(Ali’Imran :144)

     Salah satu peristiwa penting yang dialami Nabi adalah apa yang disebut dengan maulid atau maulud. Sebenarnya dilihat dari segi tata bahasa, bahasa arab, gramar lebih baik disebut maulid daripada maulud. Kalau disebut maulid artinya hari lahir, jika disebut maulud artinya hari dilahirkan.

Lebih baik dikatakan bulan maulid daripada bulan maulud. Disetiap daerah ada yang menyebut maulid adapula yang menyebut maulud, ada juga yang menyebut mulut. Sebab kalau sudah datang bulan maulud, lantas banyak urusan mulut. Malah kadang-kadang urusan mulut itu pula yang dijadikan kriteria apakah peringatan maulid itu sukses atau tidak.

Sejarah mencatat, bahwa bulan rabiul awal bukan hanya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, akan tetapi juga beliau melakukan hijrah dari mekah ke madinah pada bulan rabiul awal. Malahan pada tanggal 12 Rabiul awal pada hari senin dalam tahun yang berbeda telah terjadi tiga peristiwa penting (three histories moment), tiga saat bersejarah daripada kehidupan Muhammad SAW.

     Yang pertama ialah hari senin tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan dengan 20 april tahun 571 Masehi, ini adalah hari lahirnya Nabi SAW, di Mekkah. Yang ke dua ialah hari senin bertepatan dengan tanggal 12 rabiul awal tiga belas (13) tahun kemudian, waktu itu Rasulullah sampai di Quba’ sebelum kota Madinah, dalam perjalanan hijrah Makkah-Madinah. Kemudian pada hari senin pula tanggal 12 Rabiul awal, bertepatan dengan bulan juni tahun 632 Masehi, Rasulullah Muhammad SAW, berpulang ke Rahmatullah di kota Madinah dalam usia 63 tahun. Apabila jika dipinjam peribahasa sekali merangkuk dayung dua-tiga pulau terlampaui, bila bulan Rabiul awal kita peringati, bukan saja maulidnya Rasulullah tetapi juga hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah.

Tahun Gajah

     Pertama sekali Beliau dilahirkan di kota Mekkah, tanggal 12 Rabiul awal, tahun itu disebut tahun gajah. Dinamakan tahun gajah, karena pada tahun itu ada pasukan bergajah dari Yaman selatan datang ke kota Mekkah bertujuan hendak menghancurkan Ka’bah. Waktu itu Yaman termasuk daerah yang angkatan bersenjatanya cukup kuat. Kejadian ini tersirat dalam surah Al Fiel:1)

“ Apakah tidak pernah engkau perhatikan bagaimana perbuatan Tuhan engkau terhadap ashabil fiel (pasukan bergajah)”

     Pasukan bergajah itu  ialah pasukan yang dipimpin oleh Amir Abrahah. Semua pasukan menunggang gajah datang ke Mekkah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi Allahlah yang memutuskan, sebagaimana difirmankan-Nya :

“ mereka menyusun rencana, akan tetapi rencana Tuhan juga yang terjadi” (Ali’Imran:54)

“apakah tidak engkau saksikan, tipudaya dan kegiatan mereka mengalami kegagalan;

Tuhan kirimkan pada saat itu pasukan burung Ababil;

Sehingga pasukam bergajah itu hancur luluh seperti rumput yang di kunyah-kunyah oleh ulat”

( Al-Fiel:2-5) 

     Inilah sebenarnya peristiwa yang dinamakan maulid, hari lahir Muhammad SAW terjadi pada tahun gajah. Sejarah lahir Nabi SAW, perlu dijernihkan karena di negeri kita kadang-kadang Nabi Muhammad itu dikisahkan secara berlebih-lebihan. Sebenarnya Muhammad itu lahir sebagaimana manusia biasa, dan juga datang melewati jalan biasa. Ayahnya Abdullah, ibunya Aminah, lahirnya Di Makkah, meninggalnya di Madinah. 

Hijrah Nabi Muhammad SAW

     Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, masuk pinggir kota Quba pada hari senin, dan sejak saat itulah beliau menetap di Madinah selama kurang lebih 10 tahun.

     Makkah merupakan masyarakat yang paling bobrok. Tapi sejarah mencatat, waktu beliau melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah bintang-bintang mulai bercahaya, kemudian pada waktu berpulang ke rahmatulla, seluruh jazirah Arab telah tunduk berlutut kekuasaan islam. Peristiwa itu berjalan dalam tempo yang relatif singkat, yaitu kurang lebih 23 tahun.

Ketika sekarang kita sedang dalam suasana memeringati maulid Nabi Muhammad SAW, maka patut kiranya untuk lebih memerkuat tekad kita menjadikan Nabi Terakhir itu sebagai teladan yang sempurna. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”  (QS Al-Ahzab [33]: 21).

       Lihatlah keteladanan Muhammad SAW dalam berkata-kata dan menepati janji. Bahkan, jauh sebelum Muhammad SAW diangkat sebagai Rasulullah, diantara ciri paling menonjol yang dimilikinya adalah jujur. Dia dikenal sebagai pribadi yang sangat bisa dipegang kata-katanya sedemikian rupa tanpa diminta –ketika itu- masyarakat menggelarinya Al-Amin (yang dapat dipercaya).

      Di kemudian hari, ketika sejarah mencatat bahwa Muhammad SAW adalah pemimpin yang paling berhasil, maka bisalah kita ambil pelajaran bahwa modal dasar dan paling utama dari seorang pemimpin adalah dimilikinya sikap jujur. Dia harus terpercaya. Dia harus teguh memegang kata-katanya. 

Teladanilah para Nabi dan Rasul Allah, sebab membina sikap jujur dan tidak suka berbohong (suka menepati janji) termasuk diantara sifat para Nabi dan Rasul. Dan, ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. “Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan ia adalah seorang Rasul dan Nabi” (QS Maryam [19]: 54).

    Teladanilah para Nabi dan Rasul Allah, yang tak suka berbohong. Sungguh, jika kita tak mengikuti mereka lantaran kita suka berbohong, maka kita akan sangat merugi. Kita akan dicap sebagai pendusta dan –bahkan- digolongkan sebagai insan yang tidak beriman. “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS An-Nahl [16]: 105).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s