“SKB LIMA MENTERI BIKIN GURU RESAH” GURU REBUTAN MENGAJAR

 Dompu, TM. 14-01-2013. Akhir-akhir ini dunia pendidikan dihebohkan adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) 5 Menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalan Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama) pada Oktober tahun 2011, tentang perubahan Permendiknas No. 39 tahun 2009 dan dilanjutkan dengan Permendiknas No. 30 tahun 2011 tentang  Penataan serta Pendistribusian/Pemerataan Guru PNS dan pemenuhan beban mengajar guru pada satuan pendidikan mulai tahun 2012.

    Isi SKB yang  antara lain mewajibkan guru bersertifikasi mengajar tatap muka 24 jam/minggu diberlakukan ketat mulai tahun 2013. Banyak guru yang resah terutama di Kabupaten Dompu baik guru SMP/MTs/SMA/MA/SMK karena tuntutan mengajar tatap muka minimal 24 jam/minggu dan maksimal 40 jam/minggu.

   Hal ini para guru pun berebutan jam mengajar, terutama yang sudah lolos sertifikasi, supaya tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bisa cair. Guru yang di sekolahnya terjadi kelebihan guru mulai kebingungan mencari tambahan jam mengajar. Banyak guru di berbagai sekolah saling berebutan jam mengajar pasca diberlakukannya Surat Keputusan Bersama (SKB) 5 Menteri.

    Sebelum diberlakukan SKB 5 Menteri untuk mengatasi distribusi guru secara nasional, guru bersertifikat yang jam mengajar tatap muka kurang dari 24 jam/minggu masih bisa memenuhi dengan tugas-tugas tambahan lain di luar kelas dan sekolah, misalnya pembimbing ekstrakurikuler, wali kelas, dan tutor paket A,B, dan C.

    “Dengan adanya SKB 5 Menteri ini, beban mengajar guru benar-benar diberlakukan untuk tatap muka minimal 24 jam/minggu dan maksimal 40 jam/minggu. Beban kerja guru ini hanya di depan kelas saat mengajar siswa dengan pemenuhan jam wajib mengajar haruslah mata pelajaran yang diampuh (pemenuhan jam wajib mengajar tidak dibenarkan diambil dari mata pelajaran yang lain maupun serumpun) selain wakil kepala sekolah, urusan kurikulum, urusan humas, urusan sarana dan prasarana, urusan kesiswaan, kepala laboratorium. dan kepala perpustakaan. Akibatnya, para guru banyak yang kekurangan jam mengajar,” terang Asmawati, S.HI, guru sertifikasi Al-Qur’an hadist di MTs Al-Yaminy Dompu.

   Hal senada disampaikan Hanafi, SH salah seorang guru sertifikasi yang berada di kabupaten Dompu menyatakan bahwa akan terjadi konflik horisontal di antara sesama guru. Apalagi sekarang jumlah guru yang bersertifikat semakin banyak, terutama di sekolah negeri,” Guru yang tidak memenuhi 24 jam mengajar di sekolah terpaksa harus mencari sekolah lain. Persoalannya, sekolah lain juga mengalami masalah yang sama. “Kami merasa kebingungan karena ancaman tuntutan tunjangan sertifikasi tidak bisa cair,” ujar Dae feo. (Qai)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s